ANTIBIOTIK GOLONGAN KLINDAMISIN DAN LINKOMISIN

Published Oktober 6, 2012 by nujannach

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

  1. A.  Latar Belakang

Anti biotik merupakan zat yang dihasilkan oleh mikroba terutama jamur yang dapat menghambat atau membunuh mikroba jenis lain. Antibiotik bersifat efektif sebagai anti mikroba disebabkan karena toksisitasnya yang selektif, artinya mampu membunuh mikroba tanpa merusak sel hospes.

Secara umum toksisitas selektifnya bersifat relatif, yang masih mampu membutuhkan kadar yang tepat untuk mengatasi mikroba, tetapi masih dapat ditolerir oleh hospes. Sebagai anti infeksi. Antibiotik telah berhasil menurunkan secara drastis morbiditas dan mortalitas berbagai penyakit infeksi, sehingga penggunaannya menjadi sangat meningkat. Hasil survei menunjukkan bahwa kira-kira 30% dari seluruh penderita yang dirawat di rumah sakit memperoleh satu atau lebih terapi antibiotika, dan berbagaipenyakit infeksi yang fatal telah berhasil diobati.

Anti biotic mempunyai banyak sekali golongan. Namun dalam makalah ini hanya akan di bahas anti biotic golongan linkomisin/klindamisin.

 

  1. B.  Rumusan Masalah
    1. Apakah pengertian dari anti biotik linkomisin dan klindamisin?
    2. Apakah indikasi dari anti biotik linkomisin dan klindamisin?
    3. Apakah kontra indikasi anti biotik linkomisin dan klindamisin?

 

  1. C.  Tujuan
    1. Untuk mengetahui pengertian anti biotik linkomisin dan klindamisin.
    2. Untuk mengetahui indikasi anti biotik linkomisin dan klindamisin.
    3. Untuk mengetahui kontra indikasi anti biotic linkomisin dan klindamisin.

 

 

 

  1. D.  Manfaat
    1. Bagi Mahasiswa

Agar mahasiswa lebih memahami tentang macam-macam anti biotic, terutama linkomisin dan klindamisin.

  1. Bagi pembaca

Untuk menambah wawasan bagi para pembaca tentang macam-macam anti biotic, terutama golongan linkomisin dan klindamisin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.  Pengertian anti biotik

Anti biotik merupakan zat yang dihasilkan oleh mikroba terutama jamur yang dapat menghambat atau membunuh mikroba jenis lain. Antibiotik bersifat efektif sebagai anti mikroba disebabkan karena toksisitasnya yang selektif, artinya mampu membunuh mikroba tanpa merusak sel hospes. Secara umum toksisitasnya bersifat relatif, yang masih mampu membutuhkan kadar yang tepat untuk mengatasi mikroba, tetapi dapat di tolerir oleh hospes. Sebagai anti infeksi, anti biotik dapat menurunkan secara drastis morbiditas dan mortalitas penyakit infeksi.

  1. Yang secara primer bersifat bakteriostatik, yaitu yang dosis biasa berefek menghambat pertumbuhan dan multiplikasi bakteri. Misalnya sulfonamida, tetrasiklin, kloramfenikol, eritromisin, linkomisin, dan klindamisin.
  2. Yang secara primer bersifat bakterisida, yaitu pada dosis biasa berefek membunuh bakteri. Misalnya penisilin, sefalosporin, aminoglikosida, eritromisin, kortimoksazol, rifampisin, dan vankomisin.

 

  1. B.  Klindamisin

Klindamisin Efektif untuk pengobatan infeksi serius yang disebabkanoleh bakteri anaerob, streptokokus, pneumokokus dan stafilokokus, seperti :

  1. Infeksi saluran nafas yang serius.
  2. Infeksi tulang dan jaringan lunak yang serius.
  3. Septikemia.
  4. Abses intra abdominal.
  5. Infeksi pada panggul wanita dan saluran kelamin.
  6. 1.    Kontra indikasi: orang-orang yang alergi terhadap klindamisin dan linkomisin.
  7. 2.    Komposisi klindamisin:

Tiap kapsul mengandung 169,5 mg klindamisin hidroklorida setara dengan150 mg klindamissin

Tiap kapsul mengandung 339 mg klindamisin hidroklorida setara dengan

300 mg klindamisin.

 

  1. 3.    Cara Kerja Obat:

Klindamisin dapat bekerja sebagai bakteriostatik maupun bakterisida tergantung konsentrasi obat pada tempat infeksi dan organisme penyebab infeksi.
klindamisin menghambat sintesa protein organisme dengan mengikat subunit ribosom 50 S yang mengakibatkan terjhambatnya pembentukan ikatan peptida.
Klindamisin diabsorbsi dengan cepat oleh saluran pencernaan.

 

  1. 4.    Dosis:
    Dewasa : Infeksi serius 150-300 mg tiap 6 jam

Infeksi yang lebih berat 300-450 mg tiap 6 jam

Anak-anak : Infeksi serius 8-16 mg/kg/hari dalam dosis terbagi 3-4

Infeksi yang lebih berat 16-20 mg/kg/hari dalam dosis terbagi 3-4

Untuk menghindari kemungkinan timbulnya iritasi esofageal, maka obat

harus

ditelan dengan segelas air penuh.

Pada infeksi streptokokus beta hemolitik,pengobatan harus dilanjutkan

paling sedikit 10 hari.

 

  1. 5.    Peringatan dan Perhatian:

Bila terjadi diare, pemakaian klindamisin harus dihentikan.

Perhatian harus diberikan untuk penderita yang mempunyai riwayat

penyakit saluran pencernaan.

Selama masa terapi yang lama, tes fungsi hati,ginjal dan hitung sel darah

harus dilakukan secara periodik. Pemakaian pada bayi dan bayi baru lahir,fungsi dari sistem organ harus dimonitor. Keamanan pemakaian pada waktu hamil dan menyusui belum diketahui.

 

Penggunaan klindamisin kadang-kadang menimbulkan pertumbuhan yang berlebihan dari organisme yang tidak peka, terutama ragi. Oleh karena itu kemungkinan timbulnya super infeksi dengan bakteri dan fungsi perlu diamati. Pada pasien dengan penyakit ginjal yang sangat berat dan atau penyakit hati yang sangat berat disertai dengan gangguan metabolik agar diperhatikan pemberian dosisnya, serta lakukan monitoring terhadap kadar serum klindamisin selama terapi dengan dosis tinggi.

Terapi dengan klindamisin dapat menyebabkan kolitis berat yang dapat berakibat fatal. Oleh karena itu pemberian klindamisin dibatasi untuk infeksi serius dimana tidak dapat diberikan anti mikroba yang kurang toxis misalnya eritromisin. Klindamisin tidak boleh digunakan untuk infeksi saluran nafas bagian atas, karena klindamisin tidak dapat mencapai cairan cerebrospinal dalam jumlah yang memadai, maka klindamisin tidak dapat digunakan untuk pengobatan meningitis.

 

  1. 6.    Efek Samping :

Saluran pencernaan, seperti mual,muntah dan diare.

Reaksi hipersensitif, seperti rash dan urtikaria.

Hati : Penyakit kuning, abnormalitas pemeriksaan fungsi hati.

Ginjal : Klindamisin tidak bersifat langsung terhadap kerusakan ginjal.

Hematopoietic :Neutropenia (leukopenia dan eosinofilia sementara).

Muskuloskeletal : Poliartritis.

 

  1. 7.    Interaksi Obat :

Senyawa penghambat neuromuskular, seperti aminoglikosida dan eritromisin. Pemberian klindamisin harus disertai resep dokter.

 

 

  1. C.  Linkomisin
    1. 1.    Indikasi:
      Linkomisin diindikasikan untuk pengobatan infeksi serius yang disebabkan oleh stafilokokus, streptokokus, pneumokokus.

 

  1. 2.    Kontra Indikasi:
  2. Hipersensitif terhadap linkomisin dan klindamisin.
  3. Tidak diindikasikan untuk pengobatan infeksi bakteri yang ringan atau terhadap infeksi oleh virus.
  4. Pada penggunaan untuk infeksi berat (life threating) digunakan preparat linkomisin parenteral.
  5. Jangan digunakan pada bayi yang baru lahir.
    1. 3.    Komposisi:
      Tiap kapsul mengandung 272,4 mg linkomisin hidroklorida setara dengan 250 mg linkomisin.

Tiap kapsul mengandung 545 mg linkomisin hidroklorida setara dengan 500 mg linkomisin.

 

  1. 4.    Cara Kerja Obat:

Linkomisin dapat bekerja sebagai bakteriostatik maupun bakterisida tergantung konsentrasi obat pada tempat infeksi dan organisme penyebab infeksi. Linkomisin menghambat sintesa protein organisme dengan mengikat subunit ribosom 50 S yang mengakibatkan terhambatnya pembentukan ikatan peptida.

 

  1. 5.    Dosis:
    Dewasa: 500 mg setiap 6 – 8 jam.

Anak-anak berumur lebih dari 1 bulan: 30 – 60 mg/kg BB sehari dalam dosis terbagi 3 – 4.

Untuk infeksi yang disebabkan oleh kuman streptokokus betha-haemolitikus, pengobatan paling sedikit 10 hari.

Pasien dengan gangguan fungsi ginjal, dosis 25 – 30% dari dosis penderita dengan penderita ginjal normal.

Agar dapat diabsorpsi optimal dianjurkan untuk tidak makan kecuali minum air 1 jam sebelum dan 1 – 2 jam sesudah minum obat ini.

 

  1. 6.    Peringatan dan Perhatian:
  2. Bila terjadi diare, pemakaian linkomisin harus dihentikan.
  3. Selama terapi linkomisin jangka panjang, tes fungsi hati dan hitung sel darah harus dilakukan secara periodik.
  4. Linkomisin tidak dindikasikan untuk bayi yang baru lahir.
  5. Keamanan pemakaian pada wanita hamil dan menyusui belum diketahui.

 

  1. 7.    Efek Samping:
  2. Saluran pencernaan, seperti mual, muntah dan diare.
  3. Reaksi hipersensitif, seperti rash dan urtikaria.
  4. Rasa yang tidak umum seperti haus, letih dan kehilangan bobot tubuh (pseudomembranous colitis).
  5. Hematopoietik: Neutropenia, leukopenia, agranulositosis.

 

  1. 8.    Interaksi Obat:

Jika pemakaian kedua obat ini memang diperlukan, pasien harus menerima kaolin paling tidak 2 jam sebelum linkomisin. Senyawa penghambat neuromuskular.

Dapat terjadi resisten silang dengan eritromisin termasuk gejala-gejala yang diketahui terjadi sebagai efek dari makrolida.

 

  1. 9.    Cara Penyimpanan:

Simpan di tempat sejuk dan kering. Pemakaian linkomisin harus disertai resep dokter.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

  1. A.  Kesimpulan

Klindamisin dan linkomisin merupakan salah satu dari sekian banyak obat anti biotik. Klindamisin dan linkomisin merupakan obat anti biotik yang digunakan untuk mengobati bakteri golongan streptokokus. Anti biotik ini digunakan untuk mengobati infeksi tingkat tinggi. Untuk infeksi yang tidak terlalu parah, sebaiknya menggunakan anti biotik yang lebih sederhana, seperti eritromisin, dan tidak di sarankan memakai obat ini.

 

  1. B.  Saran

Klindamisin dan linkomisin merupakan anti biotic tingkat tinggi, jadi pemakaian anti biotic ini harus disertai resep dokter. Pemakaian tanpa resp dokter jelas dilarang, karena dapat menimbulkan berbagai macam efek samping.

Pemberian anti biotic ini pada ibu hamil dan pada bayi baru lahir juga belum diketahui dengan pasti, oleh karena itu, pemakaian obat ini harus hati-hati. Selain itu, penyimpanan obat ini juga harus diperhatikan, tidak boleh di simpan di tempat sembarangan, harus disimpan dalam tempat yang bersih dan kering.

 

 

 

                                         


 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Fitrianingsih.Dwi,2009.Farmakologi Obat-obatan dalam Praktik Kebidanan.yogjakarta:Offset

            

 

 

 

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: